PALI, SUMATERA SELATAN — Desa Pengabuan dan Pengabuan Timur, Kecamatan Abab, Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), menyimpan sejarah panjang industri minyak dan gas bumi (migas) yang berkaitan erat dengan perkembangan lapangan Abab, Dewa, dan Raja (ADERA).
Sejarah pencarian minyak di wilayah Abab tidak terlepas dari pengembangan eksplorasi minyak di Talang Akar dan Pendopo, yang lebih dahulu ditemukan dan dikelola oleh perusahaan Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij (NKPM)
Selanjutnya, NKPM mengembangkan pencarian minyak di wilayah Abab melalui perusahaan Standard Vacuum Petroleum Maatschappij (SVPM).Berdasarkan rangkuman catatan sejarah perminyakan yang merujuk pada prosiding Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI), kegiatan eksplorasi di kawasan Abab dilakukan oleh Standard Vacuum Petroleum Maatschappij (SVPM), yang dikenal sebagai Stanvac.
Pada 1949, perusahaan melakukan pengeboran sumur Abab-1 di kawasan Batu Tugu. Namun, pengeboran tersebut belum membuahkan hasil yang diharapkan.
Eksplorasi dilanjutkan pada 1951 melalui pengeboran sumur Abab-2 yang berhasil menemukan minyak. Keberhasilan tersebut disusul oleh pengeboran sumur Abab-3 di wilayah Desa Pengabuan.
Menurut penuturan para tetua Desa Pengabuan, kegiatan pengeboran pada masa SVPM terus berkembang hingga jumlah sumur di kawasan Abab disebut mencapai 14 sumur.
Pada masa itu, Desa Pengabuan berada di bawah kepemimpinan Kerio Pasai, sedangkan Marga Abab dipimpin oleh Pesirah Nuar.
Memasuki era PT Stanvac Indonesia (PTSI), kegiatan eksplorasi kembali diperluas. Berdasarkan cerita masyarakat, sekitar 1972, perusahaan melakukan pengeboran secara besar-besaran sehingga jumlah sumur minyak terus bertambah.
Pada masa tersebut, Pengabuan dipimpin oleh Kerio Mescik, sementara jabatan Pesirah Marga Abab dipegang oleh Aliabun.
Masa pengelolaan PTSI juga meninggalkan sejumlah kenangan bagi masyarakat. Di antaranya adalah pembangunan gedung Sekolah Dasar (SD) pertama di Pengabuan, yang sebelumnya dikenal dengan sebutan Sekolah Rakyat (SR), serta Pembangunan Pasar Kalangan Abab Jaya yang menjadi pusat perdagangan masyarakat.
Seiring dengan perkembangan industri migas nasional, pengelolaan ADERA mengalami beberapa perubahan.
Setelah era Stanvac dan PTSI, pengelolaan beralih kepada Pertamina pada periode 1983–1992. Selanjutnya, kerja sama dilakukan dengan CPNP melalui skema Enhanced Oil Recovery (EOR) pada 1993, disusul oleh Halliburton Energy Development Indonesia (HEDI) pada periode 1998–2002.
Pengelolaan kemudian mengalami perubahan kemitraan, termasuk pada periode Lekom Maras, hingga akhirnya kembali dioperasikan oleh Pertamina EP.
Pada 2013, unit tersebut dikenal sebagai PT Pertamina EP Asset 2 Adera Field. Sejak restrukturisasi pada 2021, pengelolaannya berada dalam struktur Pertamina Hulu Rokan Regional 1 Sumatera Zona 4.
Rangkaian perubahan tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang industri perminyakan ADERA, mulai dari pengelolaan perusahaan asing hingga memasuki era industri energi nasional.
Dalam perjalanan industri perminyakan ADERA, Pengabuan tetap memiliki kedudukan penting, terutama karena keberadaan kompleks operasional perusahaan dan fasilitas Pusat Pengumpul Produksi (PPP).
Fasilitas tersebut berkaitan dengan kegiatan penanganan hasil produksi migas dari stasiun produksi lapangan,Abab, Dewa, Raja, menuju Pusat pengumpul produksi ( PPP) Pertamina EP yang berada di desa pengabuan .
Namun, di balik keberadaan kompleks perminyakan tersebut, tersimpan cerita lokal yang masih dikenang masyarakat.
Menurut penuturan para tetua Pengabuan, kawasan yang kini dikenal sebagai Kompleks Pertamina EP Adera dahulu memiliki sebutan Balam Sebatang.
Sebutan tersebut konon berasal dari keberadaan sebatang pohon karet jenis Indermeng yang tumbuh di dalam kawasan kompleks pada masa Stanvac.
Selain dikenal sebagai wilayah penghasil minyak, Pengabuan juga memiliki sejarah pertanian yang cukup kuat. Majalah internal Pertamina EP, Energia, edisi September
Edisi September 2015, mencatat bahwa pada era 1970-an hingga 1980-an, sebagian besar kehidupan ekonomi masyarakat setempat ditopang oleh pertanian padi. Menjelang akhir 1980-an, sebagian warga mulai beralih ke perkebunan karet.
Kini, potensi persawahan tersebut kembali mendapat perhatian melalui pembinaan petani oleh Pertamina EP sebagai bagian dari upaya pemberdayaan masyarakat dan penguatan ekonomi di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Perjalanan panjang ini menunjukkan bahwa Pengabuan tidak hanya menyimpan sejarah industri perminyakan, tetapi juga jejak perkembangan pendidikan, perdagangan, pertanian, dan kehidupan sosial masyarakat.
Meski demikian, sejumlah keterangan yang bersumber dari cerita lisan, khususnya mengenai jumlah sumur, kepemimpinan Kerio dan Pesirah, serta pembangunan fasilitas sosial pada masa Stanvac, masih memerlukan penelusuran arsip lebih lanjut guna melengkapi dokumentasi sejarah Pengabuan.
Sejarah perminyakan Pengabuan bukan sekadar catatan eksplorasi kekayaan alam, melainkan bagian dari perjalanan masyarakat yang tumbuh dan berkembang bersama industri migas selama puluhan tahun.
Penulis: Waneli
Catatan: Informasi ini dihimpun dari berbagai sumber, baik tertulis maupun lisan, kemudian dirangkum secara singkat.


إرسال تعليق