PALI – Layanan publik yang diberikan oleh PT PLN (Persero) Rayon Pendopo kembali menuai sorotan dari masyarakat di Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI).
Di satu sisi, pelanggan mengeluhkan tindakan cepat PLN dalam melayangkan surat ancaman pemutusan listrik meskipun baru menunggak pembayaran selama satu bulan. Namun di sisi lain, masyarakat juga menilai respons PLN terhadap gangguan listrik di lapangan justru lambat.
Keluhan pertama disampaikan oleh Joko Sadewo, warga Desa Purun, Kecamatan Penukal. Ia mengaku terkejut setelah menerima surat pemberitahuan pemutusan sementara sambungan listrik yang ditandatangani oleh Mochamad Dede Irawan.
Dalam surat tertanggal 2 Maret 2026 tersebut, dirinya disebut telah menunggak pembayaran listrik untuk bulan Februari hingga Maret.
“Padahal saat itu masih awal Maret, artinya saya baru terlambat membayar satu bulan. Kenapa langsung disebut menunggak dua bulan, dan suratnya baru disampaikan di akhir Maret,” ujar Joko. Ia menegaskan, selama ini dirinya tetap memenuhi kewajiban pembayaran dan tidak pernah menunggak lebih dari tiga bulan.
Menurutnya, pendekatan yang dilakukan PLN terkesan terlalu cepat dalam memberi ancaman, namun belum diimbangi dengan peningkatan kualitas layanan.
Sementara itu, keluhan lain datang dari warga Dusun 5 dan Dusun 7 Desa Pengabuan Timur, Kecamatan Abab. Warga mengeluhkan kondisi listrik yang lemah serta sering mengalami padam sebagian akibat tegangan yang tidak stabil.
Di tahun 2026 Gangguan listrik tercatat terjadi dua kali, yakni pada 24 Januari 2026 dan 28 Januari 2026, dengan durasi pemadaman mencapai sekitar empat jam.
“Sekarang bukan cuma lampu redup, tapi sering mati sebelah. Kalau ada gangguan, kami harus menunggu lama karena tidak ada petugas di Pengabuan,” ujar Pahri.
Di tambah lagi tidak standar tiang listrik di jalan raya desa Pengabuan menuju kantor Desa yang sudah lama dibkeluhkan warga, namun tidarespons dari respons dari pihak PLN rayon Pendopo.
Kemudian Warga menyebut lambatnya penanganan disebabkan tidak adanya petugas PLN yang siaga di desa tersebut, sehingga harus menunggu petugas datang dari luar wilayah.
Akibat kondisi ini, aktivitas masyarakat terganggu. Sejumlah peralatan elektronik tidak dapat berfungsi normal, bahkan mesin pompa air tidak mampu bekerja optimal karena tegangan listrik yang lemah.
Masyarakat berharap PLN Rayon Pendopo segera melakukan evaluasi menyeluruh, baik dari sisi pelayanan maupun infrastruktur, termasuk penambahan gardu listrik untuk meningkatkan stabilitas pasokan.
Selain itu, warga juga mendorong agar PLN melibatkan tenaga kerja lokal agar penanganan gangguan dapat dilakukan lebih cepat.
Laporan weneli

Posting Komentar