Marga Belida Di Kartamulia Dengan Sejarahnya...!!! - DutaOnline

Post Top Ad


Marga Belida Di Kartamulia Dengan Sejarahnya...!!!

Share This
Muara Enim, DutaOnline co.id sabtu(4/7 - 2020)Dusun Atau Desa Kartamulia Berdasarkan Letak Geografisnya Berada Di Sebelah Barat Kota Palembang Sumatra Selatan Kurang Lebih 60 Km, Dengan Batas - Batas Sebagai Berikut ;
- Sebelah Utara - Sebelah Selatan - Sebelah Timur - Sebelah Barat Dusun Kartamulia Ini Sekarang Termasuk Kedalam Kabupaten Muara Enim Kecamatan Gelumbang Dan Terdiri Beberapa Desa Dan Kelurahan.
Kondisi Alam Dusun Kartamulia Termasuk Talang Dan Rawa - Rawanya Sangat Subur Dan Sebagainya Di Tumbuhi Tumbuh - Tumbuhan, Yang Mana Lazimnya Di Daerah Timur. Suhu Daerah Kartamulia Sedang, Karna Dipengaruhi Angin Muson Barat Dan Mengalami Pergantian Musim Panas Dan Musim Penghujan.
Penduduk Dusun Kartamulia Termasuk Penduduk Yang Heterogen Artinya Terdiri Atas Artikulasi Suku Melayu, Arab Dan Etnis Cina. Hal Ini Lumrah Karena Dulunya Dusun Kartamulia Ini Merupakan Pusat Pemerintahan Sekaligus Dusun ( Midji ) Ibu Dusun Marga, Sekaligus Perdagangan Maritim. Hampir Rata - Rata Penduduk Kartamulia Tidak Terlalu Terbuka, Karena Kesibukan Dan Pekerjaannya Masing - Masing Sebagai Petani, Nelayan, Beternak Dan Sedikit Sekali Yang Bekerja Di Pemerintahan. Adapun Bahasa Kartamulia Yang Di Pakai Sehari - Hari Adalah Bahasa Melayu Belida Yang Merupakan Dari Bahasa Induk Proto Melayu Atau Melayu Baku. Bahasa Belida Mirip Dengan Bahasa Riau, Samudra Pasai Siak, Bahkan Kerajaan Malaka, Pulau Penang, Kadah Dan Perlis Malaysia Sebagai Bukti Bahasa Sehari - Hari Disana Masih Sedikit Yang Menggunakan Bahasa Belida. Kartamulia Dalam Bahasa Yang Berarti Tanah Yang Di Muliakan, Marga Dari Kartamulia Itu Sendiri Adalah Bergelar Pagar Dewa, Yang Menjadi Kerajaan Maritim Sebagaimana Lazimnya Kerajaan Sriwijaya, Sebelumnya Marga Ini Berdiri Sebelum Abad Ke - 16 Hingga Kini. Ketika Kerajaan Sriwijaya Mengalami Keruntuhan Oleh Kerajaan Majapahit, Dan Masuknya Saudagar - Saudagar Islam Arab, Dan Timur Tengah Lainnya  Di Timur Dan Barat Sumatra. Sedangkan Untuk Nama Marga Belida Ini Berasal Dari Nama Ikan, Yaitu Nama Ikan Belida Atau Belido Yang Dulunya Menjadi Primadona Bermacam - Macam Olahan Makanan. Sejarah, Ketika Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya Oleh Kerajaan Majapahit, Maka Diperintah Oleh Cucu Prabu Brawijaya V Kerajaan Majapahit Anak Dari Aryadamar Yaitu Durmawijaya. Durmawijaya Beristrikan Putri Dari Sriwijaya Yang Berasal Dari Cina Yaitu Wan Puk Dan Wan Melangi Tepatnya Di Bukit Seguntang Palembang. Dan Beliau Beranakkan 10 Orang Anak, 9 Anak Laki - Laki Dan 1 Anak Perempuan, Atau Yang Lebih Dikenal Masyarakat Adalah Batang Hari 9, Adapun Nama - Nama Anak Beliau Sebagai Berikut ; 1. Raden Kurung, Menunggu Di Muara kali Belida 2. Raden Kuning, Menunggu Di Muara Kali Kelekar 3. Raden Barab, Menunggu Di Muara Kali Musi 4. Raden Tjekek, Menunggu Di Muara Kali Lematang 5. Raden Tjangking, Menunggu Di Muara Kali Komring 6. Raden Galeh, Menunggu Di Muara Kali Ogan 7. Raden Guru, Menunggu Di Muara Rambang Kapak Tengah 8. Raden Pangui, Menunggu Du Muara Kayu Agung 9. Raden Tong Bungsu, Menunggu Di Muara Kali Basemah 10. Tuan Putri Sindang Biduk Atau Ratu Sinuhun, Tinggal Di Palembang. Sembilan Raden Ini Kakak Dari Putri Sindang Biduk Setiap Tahunnya Datang Ke Palembang Untuk Menghantarkan Makanan - Makanan, Barang - Barang Dan Oleh - Oleh Untuk Saudari Bungsunya Putri Sindang Biduk. Kemudian, Setelah Mengunjungi Saudari Bungsunya Kesembilan Raden Ini pun Kembali Pulang Ketempatnya Masing - Masing Di Batang Hari Sembilan. Yah,, Beginilah Setiap Tahunnya Kegiatan Dari Sembilan Putra Durmawijaya Untuk Memberikan Upeti Kepada Putri Sindang Biduk Yang Merupakan Anak Bungsu Durmawijaya. Raden Kurung Anak Pertama Dari Durmawijaya Beristrikan Dari Anak Kagusuk Atau Kubu Cambai Yang Bernama Tuan Putri Sindang Duja Dan Memiliki Keturunan Yang Dinamai Raden Kurung. Raden Kurung Mempunyai Anak Yang Bernama Pasak, Lurah Yang Menjabat Sebagai Lurah Di Kampong Bungin Seberang Hilir Desa Kartamulia, Dan Pasak Memiliki Anak Yang Benama Megat Sari. Beristri Putri Sindang Duja Anak Dari Kubu Cambai Atau Gumuling Sakti, Megat Sari Memerintah Di Bungin Dan Mengganti Nama Menjadi Depati Malaka. Dan Sampai Saat Ini pun Makam - Makamnya Masih Ada Di Seberang  Hilir Dusun Kartamulia Karna Jabatan Itulah Megat Sari Diberi Gelar Datuk Tansri Malaka Karna Hubungan Beliau Baik Dengan Kerajaan Malaka. Sebelumnya Ratu Sinuhun Atau Putri Sindang Biduk Meminta Untuk Di Ulukan ( Diketuai ) Sewaktu Mengumpulkan Pesirah - Pesiarah Dari Marga Belida. Cuma Pesirah Di Malaka Yang Memberikan Gelar Putri Sinuhun, Lantas Di Jawab Depati Malaka, Saudara - Saudara Kamu Yang Sembilan Itu Tiap Tahun Datang Ke Palembang Untuk Mengahantarkan Barang Dan Makanan. Lantas Susunan Kami Di Belida Di Terima Tuan Putri Di Julukan ( Gelar )  Depati Megat Sari, Sehari Ia Datang Sehari Itu Juga Ia Pulang Ketempat Masing - Masing Dijulukan ( Tjangkiang ). Pada Zaman Megat Sari Masyarakat Kartamulia Mengalamai Kejayaan Dan Keemasan Karna Beliau InI Memakai Peraturan - Peraturan Islam Di Pemerintahan Beliau, Hubungan Pemerintahan Beliau Dengan Kerajaan - Kerajaan Islam, Malaka, Siak, Penang, Kepulauan Perlis, Dan Malaysia. Hukum - Hukum Di Pemerintahan Beliau Menggunakan Hukum Islam Salah Satunya Hukum Kisos ( Arab ) Atau Hukum Pancung Atau Lebih Di Kenal Di Masyarakat Desa Pemegatan Atau Pemenggalan Yang Sekarang Ini Di Seberang Hilir Dusun Kartamulia. Jika Hukuman Pertia Palembang Masyarakatnya Ada Kesalahan Yang Berat Maka Di Kurung ( Penjara ) Di Kurungan Nyawa Komring, Dan Di Eksekusi Terakhir Di Kampung Marga Belida Kampong Malaka. Tetapi Waktu Mau Di Pancung Tahanan Tersebut Di Berikan Pertanyaan Terlebih Dahulu  " Apakah Kamu Bisa Membaca Mengaji ( Qur'an ) ..?? Kalau Bisa Tahanan Itu Mengaji Akan Di Lepas Dari Hukuman Dan Di Suruh Ngajar Nagaji ( Qur'an ) Di Tempat Beliau, Tetapi Jika Tahanan Itu Tidak Bisa Membaca Qur'an Maka Akan Di Laksanakan Pemancungan Atau Pemenggalan Seperti Di Mekkah. Dengan Kemasyuran Megat Sari Inilah, Yang Di Dampingi Pangeran Islam  Yaitu Pangeran Suli Ali, Yang Makamnya Sekarang Berada Di Palembang Berada Di Areal Pabrik Ramco Simpang Sungki Kertapati Palembang. Adapun Ulama Alim Kh Iman Al Husairi Turut Serta Membangun Di Marga Ini, Atau Lebih Di Kenal Imam Alis Putih Dan Di Teruskan Oleh Ulama Sekaligus Saudara Sepupu Sultan Mahmud Badaruddin ll Yaitu Sultan Nazarudin Dari Kerajaan Islam Palembang Darussalam. Beliau Adalah Seorang Ulama Dan Sultan Dari Keturunan Sultan Abdurrahman Yang Pertama Kesultanan Palembang Yang Masuk Islam Dan Juga  Menegakkan Peraturan Di Marga Belida Tepatnya Di Kartamualia. Silsilah Marga Pemimpin Belida Di Kartamulia ; A. Pangeran Djonadi Mempunyai Anak Sebagai Berikut ; 1. Pangeran Bakri, Di Pemerintahan Marga Kartamulia 2. Pangeran Bakria, Menjadi Pemerintahan Di Marga Alai 3. Pangeran Bakarusin, Menjadi Pembarap Di Marga Kartamulia 4. Depati Bahaji, Memerintah Di Marga Lembak 5. H. Bujangwas, Menjadi Khotib Di Kartamulia 6. Kartiko B. Pangeran Bakri Mempunyai Anak Sebagai Berikut ; 1. Derhano 2. Dulganso 3. Nurajid 4. Gondowati 5. Hj. Nursida 6. Hj. Nurwilis Istri Kh. Abdul Aziz Kyai Mudo Muara Ogan Palembang 7. H. Rangge C. Anak Dari Pangeran Bakri Yaitu Pangeran Bagdad Anak Dari Tiga Orang Istri Yaitu Sebagai Berikut ; 1. Nyai Nyok 2. Pangeran Tarum 3. Hj. Nurazizah Bersuamikan H. Yakub Bin H. Delamat Suro Palembang Sepupu Dengan Pangeran Tarum 4. Nyai Rabek 5. Juhan 6. Zaluna 7. Hadijah D. Pemerintahan Pangeran Bagdad Di Lanjutkan Anaknya Yaitu Pangeran Tarum Dengan Gelar Jaya Sampurna Wafat 1941 Mempunyai Anak Sebagai Berikut ; 1. Nyai Putih Lihud 2. Depati Moeh Deman ( Wira Manggala l ) Wafat 1975 3. Siti Zahra 4. Depati Moeh Yuni ( Wira Manggala ll Atau Krio Mangkubumi 13 ) Wafat 1981 5. Mizna. Adapun Asal Usul Monograpi Marga Di Belida, Masih Banyak Peningalan - Peningalan Yang Lama, Yang Masih Ada Sampai Sekarang Termasuk Bilangan Manakah Bahasa Yang Dipakai Sehari - Hari Dalam Marga Ini, Bagaimana Pertalian Hubungan Dengan Marga - Marga Yang Setali Adad Waktu Dahulu Kala. Penduduk Asli Marga Ini Bermula Dari Dusun Cambai, Di Tanah Belida  Dusun Cambai Yang Dahulu Di Perintah Raja Palembang Sumung Rupati, Yang Menjadi Kepala Dusun Cambai Yaitu Kubu Cambai, Yang Mempunyai Anak Lebat Penjalin. Di Teruskan Oleh Anak - Anaknya Kasiban Atau Kembang Kasibang. Kembang Kasibang Mempunyai Anak Yaitu Djalang Sari, Sedangkan Djalang Sari Mempunyai Anak Kagusuk Yaitu Bernama Kubu Cambai, Nama Lain Kubu Cambai Adalah Kagusuk, Diambil Dari Nama Djalang Sari. Kagusuk Mempunyai Delapan ( 8 ) Orang Anak, Tujuh ( 7 ) Orang Anak  Laki - Laki Satu (1 ) Orang Anak Perempun, Yang Dinikahi Oleh Raden Kurung Dari Kampung Malaka Di Kartamulia, Yang Bernama Putri Sindang Duja. Adapun Anak - Anak Kagusuk Sebagai Berikut ; 1. Setia Pagi 2. Setia Embun 3. Setia Tengah Naik 4. Setiah Tengah Hari 5. Setia Tengah Turun 6. Setia Serap Malam 7. Setia Jalang Sagri 8. Setia Sindang Duja Raden Kurung Yang Berasal Dari Kartamulia Beristrikan Tuan Putri Sindang Duja Mempunyai Anak Raden Purung, Raden Purung Mempunyai Anak Pasak Lurah Di Kampung Bungin Di Seberang Hilir Desa Kartamulia. Dan Pasak Lurah Mempunyai Anak Yang Bernama Depati Megat Sari, Yang Masih Terbukti Makam - Makam Beliau Dari Kampung Bungin Dipinggir Kali Sungai Belida. Raden Kuning Saudara Megat Sari Memerintah Dusun Dilanjutkan Oleh Kajib Tinggi Yang Dikenal Patih Ruiyan, Patih Ruiyan Mempunyai Tiga ( 3 ) Orang Anak Satu (1 ) Anak Perempuan Yang Tertua Patih Utik, Dilanjutkan Oleh Anaknya Kenangkang, Seterusnya Dilanjutkan Oleh Putranya Yang Bernama Patih Kula Yang Tinggal Di Lubuk Cempedak, Antara Dusun Lembak Dan Dusun Kemang Sekarang Ini. Selanjutnya Inilah Lambang - Lambang Pusaka Batang Hari Sembilan ; 1. Raden Kurung Dari Belida ( Guci Emas ) 2. Raden Kuning Dari Kelekar ( Tungku Emas ) 3. Raden Barab Dari Sungai Musi ( Pedang Emas ) Mandau 4. Raden Tjekek Dari Lematang Atau Lemitong ( Sumpit Emas ) 5. Raden Tajangking Dari Komring ( Keris Emas ) 6. Raden Galeh Dari Sungai Ogan ( Tongkat Emas ) 7. Raden Guru Dari Rambang Kapak Tengah ( .... ) 8. Raden Panggut Dari Kayu Agung ( .... ) 9. Raden Tong Bungsu Dari Basemah ( Tombak Emas ) Tombal Ulas 10. Putri Sindang Biduk Ratu Sinuhun ( Tepak Emas ) Penjaga Muara Kali Sungai Belida Adalah Panglima Kayu Hitam, Yang Bernama Panglima Ulama Yaitu Jurik Dan Junin Berbentuk Buaya, Kepunyaan M. Ali Kudus Dan Bentuk Penjaga Dilaut Kampung Malaka Dan Di Kartamulia. Dalam Bentuk Buaya Yaitu Yahtul Mahput ( Siburik ), Serta Tumenggung Dan Punggawanya Sangat Terkenal Dan Sakti Yaitu Surya Jaya Lidah Api, Ma'rifat Lanang ( Nurjaya ) Beliau Adalah Seorang Ahli Dalam Berperang Dan Pengobatan. Adapun Nama - Nama Putri Belida Yang Terkenal Karena Kecantikannya ; 1. Putri Urai 2. Putri Dayang Salasih 3. Putri Ayu Rambut Gemulai. Batas - Batas Marga Kartamulia Menurut Peta Marga Yaitu ; 1. Sebelah Utara Berbatasan Dengan Sungai Lematang 2. Sebelah Selatan Berbatasan Dengan Kabupaten Ogan Ilir 3. Sebelah Timur Berbatasan Dengan Palembang Letaknya Ditembok Keramasan Jepang 4. Sebelah Barat Berbatasan Dengan Rambang Tebat Agung. Nara Sumber ; 1. Prabudiraja ( Sultan Mahmud Badaruddin lll ) 2. Afrizal Deman Bin Moeh Deman 3. Reza Vahlefi Bin Moeh Yoeni 4. Hamzah Bin Asnawi 5. Hendri ( Tumenggung Sriwijaya ) 6. Majalah Suluh Marga 1943 7. Dan Dari Berbagai Sumber Lainnya Sumber Yang Di Dapat DutaOnline co.id Adalah Afrizal Deman Bin Moeh Deman Bertempat Di Desa Kartamulia Kecamatan Gelumbang Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatra Selatan. Jum'at 3 Juli 2020 ( TIM )


1 komentar:

  1. Bagus sekali tentang sejarah desa kartamulia, jadikan tempat wisata sejarah untuk anak anak muda.

    BalasHapus

Post Bottom Ad

Responsive Ads Here

Pages